Profil Relawan Muda:
Adit dan Perjalanan Menemukan "Rumah"
Adit adalah gambaran pemuda urban yang kehilangan orientasi. Di usianya yang ke-23, ia merasa terjebak dalam rutinitas digital yang hampa. Lulus kuliah dengan nilai baik tak lantas membuatnya merasa “hidup”. Baginya, dunia hanyalah deretan angka dan pencapaian semu di layar ponsel. Hingga suatu hari, sebuah unggahan tentang aksi RDK Go To School melintas di lini masanya.
Awalnya, Adit bergabung hanya untuk mengisi waktu luang. Namun, pertemuan pertamanya dengan tim RDK di sebuah desa terpencil di tepian sungai mengubah segalanya. Ia melihat Kak Igo berdiri di depan puluhan anak, bukan dengan instruksi yang kaku, melainkan dengan suara yang bergetar penuh cinta, mengubah suasana senyap menjadi ledakan tawa melalui sebuah dongeng tentang kejujuran.
Saat itu, Adit bertugas sebagai tim dokumentasi. Di balik lensa kameranya, ia melihat seorang anak kecil dengan baju lusuh menangis haru saat mendengar cerita tentang keberanian. Di titik itulah Adit menyadari sesuatu: selama ini ia hanya sibuk memotret dunia, tanpa pernah benar-benar menyentuhnya.
Bergabung dengan Rumah Dongeng Khatulistiwa (RDK) menjadi titik balik bagi Adit. Ia yang dulunya tertutup, mulai belajar seni bertutur. Ia menyadari bahwa setiap manusia memiliki “suara”, namun tidak semua berani menggunakannya untuk kebaikan. Di bawah bimbingan para senior di Rumah Dongeng Khatulistiwa (RDK), Adit bertransformasi dari seorang pemuda yang sinis menjadi relawan yang penuh empati.
Pena yang Terlahir di Tepian Sungai
Kisah Anak Desa:
Bayu dan Mimpi Menembus Batas Langit
"Dulu saya merasa tujuan hidup adalah mencari materi. Sekarang saya tahu, tujuan hidup saya adalah menjadi 'jendela harapan' bagi mereka yang dunianya sedang gelap,"
Ujar Adit
Baginya, Rumah Dongeng Khatulistiwa (RDK) bukan sekadar komunitas; itu adalah kompas yang membawanya pulang kepada jati dirinya sebagai manusia yang bermanfaat.